Memperkuat Benteng Kota: Guru BK MTsN 1 Yogyakarta Ikuti Kewaspadaan Dini demi Masa Depan Yogyakarta

Yogyakarta (MTsN 1 Yogyakarta) - Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan pusat kebudayaan, selalu dituntut untuk tetap menjadi ruang yang aman dan kondusif bagi pertumbuhan generasi mudanya. Menyadari tantangan zaman yang kian kompleks, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Interaktif Kewaspadaan Dini pada Rabu, (29/04/2026). Kegiatan bertempat di Hotel Royal Darmo Malioboro, Jl. Kementerian Kidul No. 54 Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam memetakan serta mencegah potensi dampak negatif yang dapat mengganggu stabilitas sosial di Yogyakarta.

Acara dibuka secara resmi oleh Lukman Hidayat, M.Hum., selaku Kepala Bidang (Kabid) Kesbangpol Kota Yogyakarta. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kewaspadaan dini bukanlah sekadar tugas aparat keamanan, melainkan tanggung jawab kolektif. Melalui dialog tersebut, pemerintah berharap dapat membangun sistem deteksi dini terhadap fenomena sosial yang merugikan. Dengan demikian, hal-hal negatif yang tidak diinginkan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi konflik atau masalah yang lebih besar.

Eksistensi dialog tersebut diperkuat oleh kehadiran tiga narasumber dari latar belakang yang beragam, yaitu, Anenes Gita (Dinkes DIY), Erick Hadi Kusuma (Dosen Amikom), dan Novi Resmi N (praktisi psikolog). Anenes Gita membedah kewaspadaan dari perspektif kesehatan masyarakat dan pola hidup sehat. Sementara itu, Erick Hadi Kusuma memberikan wawasan mengenai tantangan dunia digital dan literasi teknologi di era modern. Selanjutnya, Novi Resmi N. menyoroti aspek kesehatan mental dan ketahanan psikologis individu.

Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan guru BK tiap sekolah di kota Yogyakarta. Salah satu guru BK MTsN 1 Yogyakarta, Yanuarita Anis Kurliawati, S.Pd., mempresentasikan betapa pentingnya peran sekolah dalam struktur kewaspadaan dini.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menambah keilmuan dan wawasan, terutama dalam mendampingi serta membimbing generasi muda di lingkungan madrasah," ungkap Yanuarita.

Bagi seorang Guru BK, materi yang disampaikan oleh para pakar menjadi "amunisi" baru dalam menghadapi dinamika remaja saat ini. Dengan pemahaman yang lebih dalam mengenai kesehatan mental dan pengaruh media sosial, pendidik diharapkan mampu mendeteksi perubahan perilaku siswa secara lebih sensitif dan memberikan arahan yang tepat.

Dialog Interaktif Kewaspadaan Dini tersebut membuktikan bahwa perlindungan terhadap identitas Yogyakarta sebagai kota yang aman memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi kesehatan, dan tenaga pendidik. Dengan memperkuat pemahaman mengenai potensi ancaman—baik dari aspek sosial, psikologis, maupun digital—Yogyakarta optimis dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dan waspada terhadap pengaruh negatif lingkungan. (ans/sis)

Tulisan Lainnya
Menabur Kepedulian di Usia Ke-48: Bakti Sosial HAB MTsN 1 Yogyakarta
28/04/2026 09:52 - Oleh TPM - Dilihat 21 kali